Senin, 01 November 2010

MASALAH SOSIAL BERKAITAN DENGAN MASALAH KESEHATAN

BAB 1
PENDAHULUAN


Saat mengantuk di kelas para mahasiswa biasanya saling berebut permen untuk dapat sekedar membuka mata demi bisa mengikuti jalannya perkuliahan. Setelah melahap permen tersebut, sampah bungkus permen mulai disisipkan di celah-celah atau lipatan kursi ataupun bangku terdekat untuk menghilangkan jejak. Buang sampah sembarangan dech jadinya...!!
Pembuangan sampah tidak pada tempatnya terkadang dianggap biasa dan tidak akan dapat menimbulkan masalah besar oleh masyarakat. Bila hal ini terus dibiarkan maka membuang sampah tidak pada tempatnya akan menjadi suatu kebiasaan umum. Hal kecil yang seringkali tidak diperhatikan seperti inilah yang dapat berkembang menjadi hal besar yang nantinya dapat menimbulkan suatu masalah dari berbagai segi.
Seperti halnya yang terjadi pada pembuangan sampah di sungai Ciliwung, seperti yang tertuang dalam artikel didepan. Tentunya hal tersebut menjadi berdampak tidak hanya bagi estetika lingkungan namun juga bagi segi kesehatan serta sosial ekonomi di daerah tersebut. Perlu adanya kerjasama lintas sektoral dari berbagai profesi termasuk didalamnya kesehatan dan keperawatan khususnya  yang berkesinambungan untuk dapat menyelesaikan masalah pembuangan sampah di sungai Ciliwung ini. 


BAB 2
SAMPAH SUNGAI CILIWUNG

2.1    Sungai Ciliwung
Sungai Ciliwung, nama sungai ini berasal dari kata Ci yang berarti kali atau sungai dan haliwung ("haliwung" adalah bahasa Sunda untuk "keruh" dan disebut dalam naskah Sunda "Bujangga Manik" (abad ke-15). Sungai Ciliwung atau yang biasa juga disebut sebagai kali Ciliwung, adalah sebuah sungai di Pulau Jawa.
Sungai ini relatif lebar dan di bagian hilirnya dulu dapat dilayari oleh perahu kecil pengangkut barang dagangan. Panjang aliran utama sungai ini adalah hampir 120 km dengan daerah pengaruhnya (daerah aliran sungai) seluas 387 km persegi. Wilayah yang dilintasi Ci Liwung adalah Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Depok, dan Jakarta.
Hulu sungai ini berada di dataran tinggi yang terletak di perbatasan Kabupaten Bogor dan Kabupaten Cianjur, atau tepatnya di Gunung Gede, Gunung Pangrango dan daerah Puncak. Setelah melewati bagian timur Kota Bogor, sungai ini mengalir ke utara, di sisi barat Jalan Raya Jakarta-Bogor, sisi timur Depok, dan memasuki wilayah Jakarta sebagai batas alami wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur. Di daerah Manggarai aliran Ci Liwung banyak dimanipulasi untuk mengendalikan banjir. Jalur aslinya mengalir melalui daerah Cikini, Gondangdia, hingga Gambir, namun setelah Pintu Air Istiqlal jalur lama tidak ditemukan lagi karena dibuat kanal-kanal, seperti di sisi barat Jalan Gunung Sahari dan Kanal Molenvliet di antara Jalan Gajah Mada dan Jalan Veteran. Di Manggarai, dibuat Banjir Kanal Barat yang mengarah ke barat, lalu membelok ke utara melewati Tanah Abang, Tomang, Jembatan Lima, hingga ke Pluit.
Dari 13 sungai yang mengalir di Jakarta, Ci Liwung memiliki dampak yang paling luas ketika musim hujan karena ia mengalir melalui tengah kota Jakarta dan melintasi banyak perkampungan, perumahan padat, dan pemukiman-pemukiman kumuh. Sungai ini juga dianggap sungai yang paling parah mengalami perusakan dibandingkan sungai-sungai lain yang mengalir di Jakarta. Selain karena Daerah Aliran Sungai (DAS) di bagian hulu di Puncak dan Bogor yang rusak, DAS di Jakarta juga banyak mengalami penyempitan dan pendangkalan yang mengakibatkan potensi penyebab banjir di Jakarta menjadi besar.
Sistem pengendalian banjir sungai ini mencakup pembuatan sejumlah pintu air/pos pengamatan banjir, yaitu di Katulampa (Bogor), Depok, Manggarai, serta Pintu Air Istiqlal; serta dengan membagi aliran Ci Liwung melalui kanal-kanal banjir seperti yang diuraikan di atas. Pemerintah pernah merencanakan untuk membangun Waduk Ciawi di Gadog, Megamendung, Bogor sebagai cara untuk mengendalikan aliran sejak dari bagian hulu.

2.2    Perkembangan Sungai Ciliwung
Pada abad XIX, air sungai-sungai di Jakarta masih bening sehingga bisa digunakan untuk minum, mandi, dan mencuci pakaian. Bahkan ratusan tahun yang lalu, Sungai Ciliwung banyak dipuji-puji pendatang asing. Disebutkan, pada abad XV – XVI Ciliwung merupakan sebuah sungai indah, berair jernih dan bersih, mengalir di tengah kota. Hal ini sangat dirasakan para pedagang yang berlabuh di Pelabuhan Sunda Kelapa. Ketika itu Ciliwung mampu menampung 10 buah kapal dagang dengan kapasitas sampai 100 ton, masuk dan berlabuh dengan aman di Sunda Kelapa. Kini jangankan kapal besar, kapal kecil saja sulit melayari Ciliwung karena baling-baling kapal hampir selalu tersangkut sampah.
Sumber lain mengatakan, selama ratusan tahun air Ciliwung mengalir bebas, tidak berlumpur, dan tenang. Karena itu banyak kapten kapal asing singgah untuk mengambil air segar yang cukup baik untuk diisikan ke botol dan guci mereka. Jean-Baptiste Tavernier, sebagaimana dikutip Van Gorkom, mengatakan Ciliwung memiliki air yang paling baik dan paling bersih di dunia (Persekutuan Aneh, 1988).
Dulu, berkat Sungai Ciliwung yang bersih, kota Batavia pernah mendapat julukan “Ratu dari Timur”. Banyak pendatang asing menyanjung tinggi, bahkan menyamakannya dengan kota-kota ternama di Eropa, seperti Venesia di Italia. Karena dikuasai penjajah, tentu saja kota Batavia dibangun mengikuti pola di Belanda. Ciri khasnya adalah dibelah oleh Sungai Ciliwung, masing-masing bagian dipotong lagi oleh parit (kanal) yang saling sejajar dan saling melintang. Pola seperti ini mampu melawan amukan air di kala laut pasang, dan banjir di dalam kota karena air akan menjalar terkendali melalui kanal ke segala penjuru.
Kemungkinan bencana ekologi di Jakarta mulai terjadi sejak 1699 ketika Gunung Salak di Jawa Barat meletus. Erupsinya berdampak besar, antara lain menyebabkan iklim Batavia menjadi buruk, kabut menggantung rendah dan beracun, parit-parit tercemar, dan penyakit-penyakit aneh bermunculan. Maka kemudian orang tidak lagi menjuluki Batavia sebagai “Ratu dari Timur”, melainkan “Kuburan dari Timur”. Bencana ini berdampak pada pemerintahan di Batavia yang mulai goyah karena banyak pihak saling tuding terhadap musibah tersebut.
Para pengambil kebijakan terdahulu dinilai salah karena telah membangun kota dengan menyontoh kota gaya Belanda. “Batavia adalah kota bercorak tropis. Berbeda jauh dengan Belanda yang memiliki empat musim,” begitu kira-kira kata pihak oposisi. Sebagian orang menduga, bencana ekologi itu disebabkan oleh kepadatan penduduk. Batavia memang semula dirancang sebagai kota dagang. Karenanya banyak pendatang kemudian menetap secara permanen di sini. Sejak itulah perlahan-lahan Ciliwung mulai tercemar.
Berbagai limbah pabrik gula dibuang ke Ciliwung. Demikian pula limbah dari usaha binatu dan limbah-limbah rumah tangga, karena berbagai permukiman penduduk banyak berdiri di sepanjang Ciliwung.
Dalam penelitian tahun 1701 terungkap bahwa daerah hulu Ciliwung sampai hilir di tanah perkebunan gula telah bersih ditebangi. Sebagai daerah yang terletak di tepi laut, tentu saja Batavia sering kali kena getahnya. Kalau sekarang Jakarta hampir selalu mendapat “banjir kiriman” dari Bogor, dulu “lumpur kiriman” bertimbun di parit-parit kota Batavia setiap tahunnya.
Pada awal abad ke-19 Batavia tidak lagi merupakan benteng kuat dan kota berdinding tembok. Karenanya, pada awal abad ke-20 Batavia sudah menjadi kota yang berkembang dengan penduduk berjumlah 100.000 orang. Bahkan dalam beberapa tahun saja penduduk kota sudah meningkat menjadi 500.000 orang.
Adanya nama-nama tempat yang berawalan hutan, kebon, kampung, dan rawa setidaknya menunjukkan dulu Jakarta merupakan kawasan terbuka yang kini berubah menjadi kawasan tertutup (tempat hunian).

2.3    Sampah Sungai Ciliwung
Fenomena pembuangan sampah ke sungai ciliwung ini juga sudah terjadi sejak dahulu. Sejak membludaknya arus urbanisasi itu, semakin meningkat kejadian pembuangan sampah di sungai Ciliwung yang memicu terjadinya pendangkalan Ciliwung dan sungai-sungai kecil. Pada 1960-an, misalnya saja, sejumlah sungai kecil masih bisa dilayari perahu dari luar kota. Waktu itu kedalaman sungai mencapai tiga meter. Namun kini kedalaman air tidak mencapai satu meter.
Sayang, semakin derasnya arus urbanisasi ke Jakarta, kondisi Ciliwung semakin amburadul. Banyaknya permukiman kumuh di Jakarta menyebabkan Ciliwung beralih fungsi menjadi “tempat pembuangan sampah dan tinja terpanjang di dunia”.
Seiring waktu dengan semakin banyaknya para urban bertandang ke Jakarta yang tinggal di daerah pinggir sungai Ciliwung,. Sampah yang kian lama ini terus menerus menggunung akhirnya menghambat aliran sungai ciliwung. Akibatnya, berbagai bentuk gangguan kesehatan karena pencemaran air dan munculnya banjir tak dapat dielakkan.
Sungai ciliwung yang dulunya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari akan kebutuhan air telah tercemar, namun meski demikian masyarakat di sekitar aliran sungai ciliwung tak memiliki pilihan lain lagi selain menggunakan air tersebut. Biaya hidup yang tinggi di lingkungan ibukota negara ini juga memperburuk kondisi masyarakat, sungguh memprihatinkan memang tapi beginilah nyatanya yang sedang terjadi.
Di mana lagi kita bisa menemukan MCK gratis kecuali di sepanjang Ciliwung? Sungai ini menghidupi kaum miskin meski setiap saat mereka harus bernegosiasi dengan kecemasan terseret banjir. Ciliwung dipandang jijik, tetapi bagi warga bantaran kali, Ciliwung memberi penghidupan. Di tepian sungai anak-anak mandi, para ibu mencuci. Di saat yang sama beberapa anak membuang hajat, hanya beberapa meter dari ibu yang sedang menggosok gigi dan berkumur air sungai. Inilah potret sehari-hari warga bantaran Ciliwung.
Gangguan kesehatan mulai dari masalah kulit, hingga intoksikasi dan mutasi gen akibat pencemaran air sungai terjadi dengan perlahan tapi pasti pada semua masyarakat di aliran sungai. Banjir yang datang dimusim penghujanpun menambah daftaran masalah kesehatan dan sosial ekonomi di daerah ini.
Bila direnungkan dalam-dalam semua pihak ikut berperan dalam menggunungnya sampah di sungai ciliwung. Bila ditelusuri bermula dari hal kecil yaitu membuang sampah tidak pada tempatnyalah hal ini berujung. Kemudian yang muncul adalah pertanyaan ,”dimana pemerintah sekian tahun tersebut?”.
Jika mencari siapa yang salah, maka banyak pihak yang akan terseret dan masalah tak akan dapat terselesaikan, malah kemungkinan permasalahan baru akan muncul akibat berbagai pihak saling menuduh dan menyerang siapa yang salah atas masalah ini. Yang lebih penting saat ini adalah mencari bagaimana penyelesaian dari masalah sampah di sungai Ciliwung ini. Penyelesaian yang diperlukan untuk masalah ini tidak hanya dari salah satu pihak saja, namun dilakukan dengan kerjasama semua pihak terkait secara berkesinambungan hingga tuntas.

2.4         Usaha Penyelesaian
     Usaha mengatasi masalah sampah, termasuk sampah Ciliwung, tak hanya dapat dilakukan dengan mencari alternatif tempat pembuangan akhir lain. Solusi masalah sampah juga bisa ditemukan dengan menumbuhkembangkan pandangan bahwa sampah merupakan sumber daya ekonomi yang menguntungkan.
Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Apakah sampah bisa menjadi pemicu bencana banjir atau menghasilkan rupiah, itu sangat bergantung pada sikap warga menghadapi limbah rumah tangga yang jumlahnya melimpah di Sungai Ciliwung.
Jika dikelola dengan baik, sampah ternyata tak selalu jadi masalah. Sanggar Merdeka Ciliwung, kelompok pemberdayaan masyarakat bantaran Ciliwung di RT 5 8 RW 12 Bukit Duri, Jakarta Selatan, telah membuktikannya. ”Sekarang ada sepuluh orang yang terlibat bisnis sampah. Sampah yang tidak diolah dibuang ke penampungan di Tebet,” kata Rachmat (39), seorang warga Kelurahan Bukit Duri.
Sampah yang menjijikkan mampu mereka olah hingga bisa mendatangkan keuntungan ekonomi. Kegiatan mengolah sampah menjadi kompos sekaligus mendidik warga untuk mau memilah sampah. Meskipun pemisahan antara sampah organik dan anorganik oleh warga belum sempurna, langkah ini mampu mengubah gaya hidup warga bantaran kali dan mengajak mereka untuk hidup lebih sehat.
Dari 50-80 kilogram sampah organik, yang terdiri atas sayuran, sisa makanan, dan tumbuhan, setelah ditambah dengan bahan-bahan pengurai bakteri mampu menghasilkan sekitar 100 kilogram kompos. Harga jual kompos Rp 5.000 per kilogram. Kekurangan pasokan sampah dari warga ditutup pengelola dengan sampah sayuran yang diambil dari Pasar Jatinegara. Setelah didampingi selama 15 tahun lebih, warga bantaran Ciliwung akhirnya mau mengolah sampah. Dengan memberinya nilai ekonomis, sampah akan dilihat warga kelas bawah yang berpenghasilan minim sebagai peluang menambah rezeki.
Ketua Umum Asosiasi Persampahan Indonesia Sri Bebassari mengingatkan, kontributor sampah bukan hanya masyarakat, tetapi juga industri yang jumlahnya sangat besar. Setiap orang menghasilkan sampah sebanyak 0,5 kilogram per hari. Sumber sampah yang dihasilkan, salah satunya, adalah dari penggunaan produk-produk industri, terutama aneka kemasan makanan dan minuman dari plastik. ”Selama ini yang disalahkan hanya konsumen. Demi keadilan, produsen yang menghasilkan barang-barang yang digunakan konsumen juga harus dituntut tanggung jawabnya,” kata Sri Bebassari. Produsen seharusnya menggunakan menggunakan kemasan produk yang dapat dengan mudah diurai alam, seperti plastik yang cepat terurai atau mengganti plastik dengan kertas.
Ketua Program Pascasarjana Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia Setyo Sarwanto Moersidik menambahkan, pengelolaan sampah yang dilakukan sejumlah pemerintah daerah umumnya masih bertumpu pada proyek pembangunan fisik, berteknologi tinggi dan membutuhkan investasi besar. Padahal, sebagian masyarakat masih memiliki modal sosial yang tinggi dan dapat diberdayakan, khususnya untuk pengelolaan sampah. ”Pemerintah masih belum memandang rekayasa sosial dalam penanganan sampah sebagai hal yang penting,” ujar Setyo. Kondisi itu justru sering kali menimbulkan kekonyolan dalam pengelolaan sampah. Warga disuruh membuang sampah ke tempat sampah, tetapi tak ada tempat sampahnya. Warga diminta memisahkan sampah kering dan basah, tetapi setelah diangkut ke tempat pembuangan sementara, sampah berbeda jenis itu kembali disatukan. Setyo mengakui, memang tidak semua masyarakat dapat diberdayakan untuk mengelola sampahnya sendiri. Karena itu, pemerintah perlu memetakan kelompok masyarakat mana saja yang dapat digarap. Penentuan kelompok masyarakat ini juga harus dilakukan dengan memerhatikan etnohidrolik atau budaya airnya. Hal ini akan memberikan langkah yang tepat bagi pemerintah untuk mengingatkan warga agar tidak membuang sampahnya di kali, bukan dengan seruan semata.
Salah satu kelompok masyarakat yang dapat diberdayakan adalah kelompok kaum ibu yang tergabung dalam kelompok Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) atau Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) seperti pada masa Orde Baru. Memang cara ini masih melibatkan peran pemerintah yang cukup kuat. Namun, cara itu mampu mengajak masyarakat untuk mencegah penyakit. ”Masih 30-40 persen warga Jakarta dapat didorong untuk membuat sistem pengelolaan sampah mandiri, termasuk mereka yang berasal dari pendidikan tinggi maupun ekonomi menengah,” katanya.
Pemberdayaan masyarakat untuk mengelola sampahnya sendiri memang membutuhkan waktu panjang. Tetapi, hal itu harus dilakukan dari sekarang melalui penganggaran yang memadai untuk melakukan rekayasa sosial tersebut. Sayangnya, rekayasa sosial ini masih dipahami pemerintah hanya dengan cara sosialisasi dan imbauan.

2.5         Peran Perawat
Perawat memiliki tugas tersendiri dalam kaitannya dengan penyelesaian penumpukan sampah di sungai Ciliwung. Seperti halnya awal mula pembuangan sampah yag dianggap merupakan sebuah hal kecil yang sepele maka disini perawat melakukan suatu perubahan perilaku masyarakat atau komunitas dari hal kecil juga yang dianggap sepele sehingga nanti kedepannya dapat mempengaruhi masalah besar yang telah terjadi. Seperti yang telah diuraikan dalam beberapa pernyataan sebelumnya bahwa diperlukan suatu kerjama lintas sektoral dari berbagai profesi, maka sebagai perawat kita dapat melakukan suatu kegiatan sesuai dengan profesi yang kita miliki.
 Disini perawat berperan sebagai seorang pemberi CHN (Comunity Health Nursing) yang bertugas adalah untuk memberikan asuhan keperawatan komprehensif kepada komunitas secara utuh, dimana disini komunitasnya adalah masyarakat yang tinggal di DAS. Asuhan Keperawatan yang diberikan dapat dilakukan bergantian kepada tiap komunitas tertentu misalnya tiap 1 RT. Bila masyarakat melihat RT lain dapat melakukan suatu perubahan perilaku yang menuju ke arah yang baik, tentunya nantinya RT lain juga akan termotivasi untuk melakukan suatu perubahan perlaku ke arah yang baik pula.
Dimulai dari pengkajian, perawat CHN melakukan pengamatan bagaimana kehidupan lingkungan dan masyarakat, dari sini nantinya perawat akan menyampaikan dalam suatu forum dengan masyarakat data apa saja yang telah ditemukan dari pengkajiannya, serta masalah keperawatan komunitas yang muncul dari data tersebut. Kemudian perawat bersama dengan masyarakat berdiskusi untuk menentukan pioritas masalah keperawatan yang ada, disini perawat hanya bertugas sebagai fasilitator karena yang paling berperan dan berhak menentukan suatu keadaan merupakan masalah atau bukan adalah masyarakat daerah tersebut.
Setelah sepakat dengan prioritas masalah tetap sebagai fasilitator dan konsultan perawat membimbing masyarakat untuk menyusun rencana tindakan atas masalah yang terjadi, yang kemudian nantinya akan diimplementasikan oleh semua masyarakat yang ada. Setelah implementasi telah dilaksanakan, perawat bersama dengan masyarakat melakukan suatu evaluasi. Bila terjadi perubahan perilaku ke arah yang baik maka intervensi yang tadinya telah dirancang dapat diteruskan sendiri oleh masyarakat. Bila tidak maka perawat akan mendampingi masyarakat lagi dalam menyusun rencana yang lebih baik, untuk selanjutnya dilakukan dan kemudian dievaluasi kembali.
Sebagai contoh masalah yang paling muncul dalam kasus ini adalah pembuangan sampah yang tidak pada tempatnya, sebagai perawat CHN kita dapat mengusulkan adanya kerja bakti rutin untuk pengambilan sampah di DAS, pembuatan tempat sampah minimalis, penanaman pohon, dimana nantinya itu semua juga akan berguna bagi masyarakat. Selain itu perawat CHN juga dapat melakukan HE (Health Education) tentang pembuangan sampah pada tempatnya serta manfaatnya.

BAB 3
KESIMPULAN 

Masalah kesehatan yang terjadi pada suatu komunitas tentunya akan mempengaruhi segala aspek yang ada di daerah tersebut dan sekitarnya, seperti halnya sungai Ciliwung. Diprerlukan suatu penanganan lintas sektoral yang berkualitas dan berkesinambungan dari berbgai profesi. Berbagai profesi disini tidak berindak saling menggurui atau bahkan merasa bahwa profesi tertentu lebih penting, namun bekerja dengan bersama-sama mengatasi masalah sampah di sungai Ciliwung ini sesuai bidangnya yang saling melegkapi.
Sebagai seorang perawat disini peran kita sebagai CHN (Comunity Health Nursing), tugas kita sesuai profesi yang kita miliki adalah memberikan asuhan keperawatan secara komprehensif dan holistik kepada masyarakat. Asuhan keperawatan dilakukan dengan sistematis mulai dari pengkajian, pembuatan diagnosa/ masalah keperawatan, intervensi, implementasi hingga evaluasi bersama masyarakat.
Dari asuhan keperawatan yang dilakukan nantinya diharapkan terjadi perubahan perilaku sekecil apapun dari masyarakat sebagai contoh membuang sampah pada tempatnya. Perubahan perilaku kecil inilah yang akan menjadi suatu motivasi untuk melakukan suatu perilaku besar yang nantinya dapat menyelamatkan masyarakat itu sendiri.



DAFTAR PUSTAKA


http://id.wikipedia.org/wiki/Ci_Liwung diakses tanggall 20 Oktober 2010 pukul 20:30 WIB.
http://regional.kompas.com/read/2009/03/06/09320266/mimpi.ciliwung diakses tanggal 25 Oktober 2010 pukul 20:10 WIB.
http://regional.kompas.com/read/2009/03/06/09320266/mimpi.ciliwung diakses tanggan 25 Oktober 2010 pukul 20:19 WIB.
http://jakarta45.wordpress.com/2009/01/30/sampah-ciliwung-sumber-rupiah/ diakses tanggal 25 Oktober 2010 pukul 20:30 WIB.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

....ATUR NUHUN....