Minggu, 22 Agustus 2010

Latar Belakang Bab I

1.1 Latar Belakang
Tekanan darah tinggi atau hipertensi telah menjadi penyakit yang umum bagi banyak orang saat ini yang menjadi salah satu faktor penyebab stroke, serangan jantung, dan juga gagal ginjal dan akibat terburuk dari penyakit ini adalah kematian. Karena itu jika bisa, penyakit ini harus segera dicegah bila belum terjadi, serta segera dilakukan penanganan lebih lanjut bila telah terjadi (Hariyanto. 2009). Sebenarnya hipertensi mudah dikendalikan jika ditangani sejak dini, celakanya orang kerap kali tidak menyadari jika mengidap hipertensi dan baru menyadari setelah trejadi komplikasi kerusakan organ. Jika hal tersebut terjadi, hipertensi pun menjadi tak terkendali, tidak hanya hipertensi yang harus disembuhkan namun juga kerusakan organ yang terjadi karena adanya hipertensi tersebut, meski nantinya fungsi organ tidak dapat kembali seperti sebelumnya (dr. Lili Marliani dkk. 2007; vii). Komplikasi hipertensi terjadi karena kerusakan organ yang diakibatkan oleh peningkatan tekanan darah yang tinggi dalam waktu yang lama (dr. Lili Marliani dkk. 2007; 27). Peningkatan tekanan darah sendiri disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya jenis kelamin, latihan fisik, makan, stimulan (zat-zat yang mempercepat fungsi tubuh), stress emosional (seperti marah, takut, dan aktivitas seksual), kondisi penyakit (seperti arteriosklerosis), faktor hereditas, nyeri, obesitas, usia, serta kondisi pembuluh darah (Hegner dkk. 2003; 248). Dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak bisa lepas dari stres , masalahnya adalah bagaimana hidup beradaptasi dengan stres tanpa harus mengalami distres (Prof. Dr. dr. H. Dadang Hawari. 2008; 18).
Menteri Kesehatan Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp. JP (K) menyatakan, prevalensi hipertensi di Indonesia pada daerah urban dan rural berkisar antara 17-21%. Data secara nasional yang ada belum lengkap. Sebagian besar penderita hipertensi di Indonesia tidak terdeteksi, sementara mereka yang terdeteksi umumnya tidak menyadari kondisi penyakitnya, ujarnya pada Peringatan Hari Hipertensi 2007 di RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita Jakarta (Ruhyana. 2007). Hipertensi merupakan penyebab kematian nomor 3 setelah stroke dan tuberkulosis, yakni mencapai 6,7% dari populasi kematian pada semua umur di Indonesia. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Balitbangkes tahun 2007 menunjukan prevalensi hipertensi secara nasional mencapai 31,7% (Eko Priyanto, S. Kep.. 2010). Prevalensi hipertensi di Indonesia tercatat mencapai 31,7 persen dari populasi pada usia 18 tahun keatas, dan dari jumlah tersebut 60 persen penderita hipertensi akan menderita stroke, sementara sisanya akan mengalami gangguan jantung, gagal ginjal dan kebutaan (DEPKOMINFO. 2009).
Sudah lama diketahui bahwa stres atau ketegangan jiwa (rasa tertekan, murung, rasa marah, dendam, rasa takut, rasa bersalah) dapat merangsang kelenjar anak ginjal melepaskan hormon adrenalin dan memacu jantung berdenyut lebih cepat serta lebih kuat, sehingga tekanan darah akan meningkat (dr. Lany Gunawan. 2001; 18). Stres dapat meningkatkan tekanan darah yang bersifat sementara, tetapi apabila terjadi berkepanjangan, peningkatan tekanan darah pun dapat menetap, hal ini akan sangat berbahaya bagi orang yang sudah menderita hipertensi sehingga menimbulkan komplikasi hipertensi (dr. Lili Marliani dkk. 2007; 66). Komplikasi yang timbul dari hipertensi menyerang target organ hipertensi antara lain otak, mata, jantung, pembuluh darah arteri, serta ginjal (dr. Lili Marliani dkk. 2007; 27).
Stres merupakan suatu tekanan fisik maupun psikis yang tidak menyenangkan. Yang terpenting di sini bukan bagaimana menghilangkan stres karena hal itu sangatlah sulit, namun yang terpenting adalah bagaimana cara mengelola dan mengurangi stres tersebut (dr. Lili Marliani dkk. 2007; 66). Menurut Prof. Dr. dr. H. Dadang Hawari (2008) upaya untuk meningkatkan kekebalan stres adalah dengan mengatur beberapa hal dalam hidupnya, diantaranya adalah makanan, istirahat tidur, olahraga, rokok, minuman keras, berat badan, pergaulan, waktu, agama, keuangan, serta kasih sayang. Reaksi tubuh terhadap stres tentunya berbeda pada masing-masing indiviu yang dipengaruhi bagaimana kepribadian individu tersebut. Dari uraian tersebut diatas, maka peneliti tertarik untuk mengidentifikasi adanya hubungan stres terhadap kejadian komplikasi hipertensi pada pasien dengan hipertensi di ruang rawat inap RS Baptis Kediri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

....ATUR NUHUN....